Graduate School Entrance Examination & The City

Tadaima modorimashita!

Saya sudah kembali dari Tokyo, kawan-kawan ヽ(´ー`)ノ

Saatnya berbagi cerita tentang ujian masuk program United Graduate School of Veterinary Sciences  (UGSVS) yang pusatnya di Kota Gifu, Prefektur Gifu, Jepang. Sebelumnya, mari gue kasih gambaran tentang program dan lokasi ujian itu sendiri. Program UGSVS adalah program gabungan dari empat universitas sekaligus yang mengampu program studi kedokteran hewan, yakni Universitas Obihiro, Iwate, Gifu, dan Tokyo University of Agriculture and Technology. Pusat administrasi dari program ini adalah Universitas Gifu, meskipun setiap mahasiswa yang belajar akan bermarkas di salah satu dari empat universitas yang dipilih. Sementara itu kota Gifu, tempat bernaungnya pusat administrasi Universitas Gifu, adalah kota berpenduduk 400.000-an jiwa dan terletak di Jepang bagian Tengah. Kota ini dikelilingi pegunungan dan dialiri beberapa sungai yang membuatnya menjadi cantik saat musim semi tiba dan sangat dingin berangin saat musim dingin.

Saya melaju dari Tokyo menuju Gifu pada Rabu, 5 Februari malam menggunakan bis malam bernama O.T.B. Liner yang parkir di lapangan parkir Kajibashi, sebelah timur stasiun Tokyo. Udara yang cukup dingin ditambah hembusan angin membuat kami para penumpang yang menunggu giliran bis kami datang dan berangkat harus sabar dan tahan berdiri di lapangan parkir sambil pasang kuping menderngarkan pengumuman jadwal berangkat. Saat itu suhu sekitar minus 1 derajat celcius dengan kecepatan angin yang cukup untuk mengelundungkan kaleng minuman kosong beberapa milimeter.

Bis malam yang membawa saya selama 16 jam

Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya tibalah waktunya saya masuk bis dan bis pun berangkat agak terlambat 5 menit dari jadwal seharusnya. Untuk ukuran bis malam antar provinsi, keterlambatan berangkat ini dianggap wajar karena perjalanan dengan bis sangat rentan terjebak macet, tumpukan salju, dan beberapa kendala lalu lintas yang lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan kereta. Saya pun mengambil posisi istirahat di dalam bus yang hangat setelah melepas winter boots dan memasang selimut (disediakan oleh pihak bus).

Lebih kurang delapan jam kemudian, bus sampai di parkir barat stasiun JR Gifu, kota Gifu. Sambil mengumpulakan nyawa saya bergegas mencari toilet untuk sekadar cuci muka, gosok gigi, dan rapi2 pakaian untuk ujian kemudian melaju ke Universitas Gifu dengan bis kota. Sebuah pemandangan yang jarang saya temukan di Tokyo adalah adanya 2-3 jembatan yang dilewati untuk sampai ke lokasi, dimana jembatan-jembatan tersebut merentangi sungai-sungai yang cukup besar.

Universitas Gifu

Sesampainya di lokasi, saya langsung mencari tempat duduk yang kebetulan ada di samping convinient store, lalu sarapan nasi kepal. Setelah kenyang dan kedinginan, saya pun bergegas mencari TKP ujian dan kembali disambut dengan jembatan yang merentangi sungai. Wow, saya pun menjuluki Gifu sebagai kota pegunungan dan sungai.

United Graduate School of Agriculture and Veterinary Sciences
Sungai yang membentang di dalam kampus

Pukul 08.00 waktu setempat, saya pun tiba di Gedung United Gradute School of Agriculture and Veterinary Sciences. Tampaknya saya adalah peserta pertama yang datang karena bahkan staff resepsionisnya pun baru datang dan langsung buru-buru absen. Karena jadwal ujian dimulai Pukul 9 pagi, saya pun diminta menunggu di dalam ruangan yang telah disediakan, yakni sebuah ruang seminar di lantai 2 yang cukup luas dan hangat.  Selama menunggu, kira-kira ada empat orang peserta lain yang datang dan menghangatkan diri di sana.

Ruang seminar yang dijadikan ruang tunggu

Tepat sepuluh menit sebelum ujian, atau Pukul 8.50, kami pun bergegas ke lantai 6 tempat ujian tertulis diadakan. Di ruangan tersebut, sudah menunggu enam peserta lainnya beserta dua orang staf pengawas ujian. Benar-benar khas Jepang yang terorganisir, kursi dan meja ujian kami sudah disusun berdasarkan nomor ujian. Hal ini tampaknya untuk memudahakan pembagian soal yang berbeda setiap orang tergantung research field-nya. Secara keseluruhan, saya mendeteksi ada empat orang asing dan sisanya orang Jepang (saya tidak tahu ada orang China atau tidak, karena penulisan namanya memakai kanji yang sama dengan Jepang, wajahnay pun mirip, hihihi).

Ujian pertama adalah bahasa Inggris yang tidak bisa dikatakan mirip TOEFL. Mungkin mirip TOEFL hanya pada bagian reading comprehension, namun lebih spesifik. Dari keseluruhan empat soal, semuanya adalah paragraf yang diambil dari jurnal dan buku kedokteran hewan dengan topik yang cukup spesifik, cardiologi, tumor/kanker, hematologi, dan anatomi. Kami harus mengisi kata-kata yang kosong pada masing-masing paragraf. Cukup menantang dan membuat saya harus membuka kembali memori masa perkuliahan S1 dan PPDH.

Ujian kedua (selang 30 menit dari akhir ujian pertama) adalah field test alias ujian mata pelajaran yang sesuai dengan research field masing-masing peserta, dalam bahasa Inggris tentunya. Saya yang mengambil bidang penelitian Veterinary Clinical Obstetry (kalau di kedokteran manusia semacam obgyn) diberikan dua lembar berisi dua pertanyaan beruntun mengenai dasar siklus estrus dan hormone-hormon reproduksi. Untuk ujian kedua ini saya cukup pede karena udah dikasih kisi-kisi (kalau ga mau dibilang bocoran soal) dari senior di Lab. Selain itu pertanyaan yang cukup mendsar serta permintaan jawaban singkat membuat saya tidak harus putar otak banyak-banyak merangkai kalimat.

Ujian ketiga (setelah istirahat makan siang) adalah ujian lisan, yakni presentasi makalah penelitian (dalam kasus saya, skripsi) dan research proposal. Waktu dibagi menjadi 10 menit presentasi dan 20 menit tanya jawab dengan professor dari 4 universitas anggota United Graduate School, termasuk professor saya sendiri. Lagi-lagi khas professor Jepang, suka dengan pertanyaan mendasar. Pertanyaan yang dilontarkan mengenai penelitian saya terdahulu tidak jauh dari metode mengapa sample-nya ini, mengapa semua dikasih treatment ini dan itu, bagaimana cara menentukan penilaian, dan sebagainya. Entah keberuntungan atau bukan, di antara 4 orang sensei, yang pede berbahasa Inggris lisan (kalau tulisan saya yakin mereka semua sangat pandai karena terbiasa menulis jurnal internasional) hanya 2 orang, termasuk professor saya tentunya. Meskipun demikian, 1 orang professor yang cukup pede berbahasa Inggris lisan itu pun lebih banyak menggunakan bahasa Jepang saat bertanya pada saya yang membuat saya harus ekstra fokus mendengarkan sambil melirik sensei saya untuk meminta bantuan diinterpretasikan (kalau tidak mau bilang diterjemahkan), hahahaha. Alhamdulillah, ujian ketiga berjalan mulus dan diakhiri dengan obrolan ringan tentang Yamagishi-sensei (salah satu professor penguji yg berbahasa Inggris) yang ternyata adalah classmates salah satu dosen saya di IPB. Obrolan yang unik untuk mengakhiri sebuah diskusi, terasa hangat.