Teknologi Abad 21: Teknologi untuk Menghemat Listrik

Kalau sekarang lagi nge-trend gadget hemat listrik seperti kulkas, atau mobil berbahan bakar listrik, di Jepang malah lagi dipromosikan sebuah alat untuk menghemat penggunaan listrik itu sendiri.

Ecopro21 adalah inovasi salah satu perusahaan IT Jepang, Iforcom Co. Ltd. yang berbasis di Tokyo.  Bagaimana cara kerjanya? Menurut sang Manajer, alat ini dipasang di sumber listrik central di sebuag gedung, kemudian alat ini akan mendeteksi pemakaian listrik terbesar dan terboros berasal dari alat apa.

Misalnya begini, dalam satu gedung terdapat lampu, komputer, dan lemari es. Ecopro21 mendeteksi komputer setiap hari selalu dalam keadaan standby saat tidak digunakan, sehingga “menyedot” listrik cukup banyak. Lalu, harus mematikan komputer? Tidak, tidak semudah itu. Hasil deteksi ecopro21 akan dianalisa oleh konsultan Iforcom, kemudian pihak pengelola gedung akan berdiskusi dengan konsultan untuk mencari “jalan keluar” serta “tips n trick” dalam menghemat pemakaian komputer. Jadi, tidak semata-mata, jika komputer yang menyala terus jadi penyebab, dia harus dimatikan. Listrik yang dapat dihemat dengan alat ini bisa mencapai 10% (lumayan kan?), demikian pula dengan biaya listrik yang harus dibayar ke penyedia listrik alias PLN.

Agak ribet ya? Saya sendiri tidak paham betul cara kerjanya, selain karena saya bukan ahli listrik, saya juga belum pernah melihat aplikasinya langsung.

For our info, saat ini salah satu gedung di Universitas Indonesia sudah memasang ecopro21 sebagai pilot project di Indonesia. Iforcom masih dalam proses mensosialisasikan penggunaan alat ini di perusahaan-perusahaan atau gedung-gedung perkantoran, kampus, dan sekolah di Indonesia. Kenapa tidak dipakai di rumah? Menurut sang Manajer, nilai investasi yang besar dan feature alat yang “belum kompatibel” dengan sistem listrik di rumah-rumah yang menjadi kendala alat ini masih terbatas pada “gedung besar” atau bangunan publik. Sebagai investasi awal, senilai Rp 68 juta harus disediakan oleh pengelola gedung untuk pemasangan, analisa, termasuk konsultasi dengan para ahli dari Iforcom. Nilai tersebut akan kembali dalam kurun waktu 1 tahun. Bagaimana? Berminat?

Semoga saja ke depannya, ada pengembangan dari alat-alat seperti ini oleh anak bangsa ya 🙂 Eh, anak bangsa? yang mengembangkan ecopro21 anak bangsa kok. Beliau warga negara Indonesia tercinta yang bekerja di perusahaan negara tetangga. Bagaimana dengan anak bangsa yang lain? ada yang mau berkontribusi di Tanah Air?

 

 

Teraskota dan Korea

Beberapa waktu lalu, saya, adik sepupu, dan paman saya meluangkan waktu bersama untuk berbelanja di kawasan Serpong, Tangerang. Namun, berhubung sudah waktunya makan malam, kami pun mampir ke sebuah pusat perbelanjaan bernama Teraskota. Setelah berkeliling, akhirnya saya dan sepupu saya memutuskan untuk makan di sebuah restoran masakan Korea, sesuai rekomendasi paman saya. Meskipun sebenarnya paman saya sempat “mewanti-wanti”, kalau rasa masakan disini seperti masakan Jepang yang dimasak di Hoka-Hoka Bento, artinya rasa masakan sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Mungkin karena paman saya pernah bertandang Korea atau karena paman saya tahu saya penggemar “rasa otentik Asia Timur”, entahlah.

Kimchee Club, inilah nama restorannya. Mungkin berasal dari kata “Kimchi”, semacam asinan sayur khas Korea yang rasanya pedas-asam-asin. Setelah menelusuri papan menu yang membuat pusing dengan nama-nama yang asing di telinga, akhirnya saya memesan satu porsi zzanpong (entah bagaimana cara membacanya), yakni mie putih berdiameter besar (di Jepang, namanya udon) dengan lauk pauk aneka seafood dan kuah rasa laut (seperti memakai dashi pada makanan Jepang) yang pedas, panas, dan asin.

 Image

 

Sedangkan sepupu saya memesan satu porsi Ramyon soup (semacam Ramen di Jepang) dengan lauk pauk telur yang gurih. Sedangkan paman saya memesan sup (entah apa namanya) campuran daging dengan tahu, tempe dan sayur mayur yang kuahnya berasa seperti miso (di Indonesia semacam tauco). Entah karena ini pertama kalinya saya makan di restoran Korea atau memang tradisi Korea, setiap porsi makanan apapun, dilengkapi dengan semangkuk kecil kimchi dan telur dadar gulung rumput laut yang rasanya manis seperti dadar gulung Jepang, namun yang satu ini jadi gurih karena ditambah rumput laut (di Jepang disebut nori).

Image
Apapun makanannya, minumnya ya teh hijau. Saya cukup puas dengan teh hijau yang disajikan. Menurut saya agak hambar (mungkin karena ditambah es batu), namun beberapa detik setelah meminumnya, terasa seperti “habis makan daun teh”, ada rasa dan aroma teh hijau cukup kuat yang muncul.

Image
Bagaimana dengan harganya? Saya rasa sesuai dengan porsi, rasa, dan pelayanan yang diberikan. Satu porsi zzanpong yang saya pesan sekitar Rp 69.000 sudah termasuk kimchi dan sepotong dadar gulung. Harga teh hijau sekitar Rp 15.000. Untuk menu lain, seperti satu set nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur dengan porsi yang lebih besar dihargai Rp 100.000-an. Menurut saya ini sudah harga standar, sama seperti restoran Jepang yang mematok kisaran harga serupa untuk porsi dan pelayanan yang sama. Sebagai informasi tambahan, suasana yang diberikan “cukup Korea” dengan sambutan dalam bahasa Korea saat masuk restoran, ditambah pelayan yang ramah. Bahkan saat kami selesai memesan, mereka mengucapkan sesuatu dalam bahasa Korea. Saya hanya tahu mereka mengucapkan terima kasih, sisanya mungkin seperti ungkapan khusus dalam melayani pelanggan.^^ Terakhir, tidak lupa sajian musik yang semuanya musik Korea, mungkin lagu-lagu yang sedang terkenal sekarang, saya juga tidak “ngeh”.

Bagi penggemar Korea ataupun “asli Indonesia” yang ingin mencicipi rasa Korea dengan sentuhan “Indonesia”, silakan mampir ke Kimchee Club.

 

New Page, New Start

 

Ini blog baru dan pertama saya yang saya buat sendiri di wordpress setelah sebelumnya berkecimpung di yuu-rhapsody.blogsopot.com.Sebenarnya dulu sekali, sekitar empat tahun yang lalu, saya sempat dibuatkan blog di wordpress, tapi itu jaman saya sangat gaptek, jadi tidak perlu dibahas lah ya.

Kenapa pilih wordpress? Pertama, karena ingin ganti suasana, kedua karena ingin menjelajah ke laman-laman lain (supaya ga kuper gitu ceritanya), ketiga karena tertarik dengan feature – feature yang disediakan. Sebelumnya saya sempat mengikuti blog wordpress beberapa orang rekan dan bahkan sempat membantu seorang teman mendaftar dan mendekorasi blog wordpress. Sepertinya itu masa-masa penjajakan saya dengan “lahan” ini.

Lalu, mengapa dinamakan “Ayazt World Journal”? Tadinya saya ingin menambahkan apostroph-s setelah kata “Ayazt” menjadi “Ayazt’s World Journal”, tapi niat itu saya urungkan karena terkesan “egois” melebihi “narsis” serta memberikan citra “introvert”. Setidaknya itu menurut saya, bukan menurut tata bahasa bahasa Inggris yang sebenarnya. Sebuah nama tidak punya “grammar” kan? ^^

Apa yang akan saya tulis? Saya sudah menulis berbagai macam hal di yuu-rhapsody.blogspot.com, mulai dari curahan hati, wisata kuliner, saduran berita di televisi asing, dan sebagainya. Saya tidak akan menutup atau berhenti menulis di blog yang sebelumnya. Namun, isi blog ini pun mungkin tidak akan jauh berbeda. Sempat terpikir akan mengkhususkan blog ini untuk suatu tema, tapi lagi-lagi saya mengurungkan niat itu karena pada dasarnya “saya suka banyak hal dan suka menulis tentang apapun”. Jadi, apa bedanya dengan blog yang sebelumnya? Kita lihat saja ya apa yang akan saya tulis 😉

Selamat membaca 🙂