Godzilla on the Tokyo’s Ground!

godzilla 1

Tokyo always has its own way to attract people to come by and enjoy the crowd. Instead of its high humidity and intense sunlight, such events have been always beat the Tokyo’s summer. This year, Roppongi Midtown, as usual, beat the Tokyo’s summer by summoning the Giant creature on the ground. A half body Godzilla, including its half tails was set on the Midtown Park thus can be seen freely by anyone. “Anyone” means really anyone, from babies to elder peoples, Japanese or non-Japanese, either Tokyo resident or other prefecture’s resident came by to capture the monster. Me, myself was on my way guiding my Kyushu resident’s friend roaming around Tokyo when we finally decided to capture the Godzilla on day and evening.

Godzilla is attacking the town

It was on around 7 PM when the short light-attraction began. To entertain Godzilla fans, light and dry ice were set on to appear on particular pattern in order to create a “Godzilla atmosphere” as seen on the movie.  The building near the park definitely gave a perfect view of Godzilla attacking the town, again, just like we saw in the movie. 

Global Cafe, a one-stop spot for International Exchange

2014-06-28 17.26-tile

Created on the 4th and 5th floor of Building no.13, Koganei Campus, Tokyo University of Agriculture and Technology (TAT), Global Cafe provided an excellent atmosphere for both Japanese and International student studying in TAT. It was once a simple corner, often used by International Student when waiting for the next class or arranging short-time gathering after class. Some other times, several international students arranged an international lunch. International lunch? Well, it short of lunch attended by students from countries outside Japan.

doutor 2

I remember 4-5 years ago, all we could do here was chatting and reading some brochures. Surprisingly, I found the place is not only for “a simple meeting” but more likely a place where International Student could enjoy various activities as well as exchange them with other students. I found a lot of interesting books being places on a standing bookshelf, a sink (perhaps we can brush our teeth after lunch here^^), an air conditioner, several arranged chairs and tables, microwave to “ching” our lunches, and a Doutor’s coffee maker machine! What a cafe!

In this education world, I know a huge number of people are striving for this scholarship and even do whatever it takes in order to win it.

However, I do know that my Professor were also striving really hard for a warm, comfortable room to be occupied by me in the University. I do know what have he done in order to get the cheapest apartment, all the legal documents and even the tuition waivers. I know it is and gonna be the toughest year for him. So do for me.

I am being blessed by two big chances, both are worth to take, both are what I have been wishing for. But, one another probably will not allow me to choose both.

Here it comes the day where I have to chose whether to go now or never.

 

Laras Rahayu, DVM

on her way to Tokyo’s Dream

 

Shibuya Reunion

I love Monday!

It was a clear day on Monday, 3 weeks ago in Shibuya where 3 Indonesian ladies (well, I prefer ladies instead of girls) spend a warm afternoon winter. We decided to met up in front of Hachiko statue since Shibuya might have changed rapidly but the Hachiko will always stand still as he is.

Image
My Friends and I with the legendary Hachiko

After deciding where we gonna spend hours, we walked to the direction of Harajuku station (Shibuya is actually a part of Harajuku district, Harajuku-ku) and stop by in NHK Studio. One of the building, called NHK Studio Park provides a small amusement building in order to entertain its viewers. We could enjoy many educative and entertaining spots inside, from basic science quizzes for kids, prototype of current Taiga (Colossal) Drama, Dubbing Challenge, Variety Show  Broadcasting Experience,  Newscaster Challenge for kids, free 3D video watching, and many other fun activities for people all age. Do not forget to greet the icon, Doumo-kun who will greet you back by saying thank you in a creepy-cutie voice, Doumo~~~~

If you are lucky you can meet the talents of certain show or drama (!). What a bonus ^^

Image
NHK Studio Park
Image
Display set of kimono from newest NHK’s Taiga Drama
Image
Our picture taken at one of the Experiencing Variety Show Broadcasting Spot. Cheers! 😀
Image
Pose for Ama-chan Drama
Image
Greet Doumo-kun. Doumo~~~~~

After greeting Doumo-kun, we walked back to Shibuya station and found that the legendary crossing is always crowded even at 4 pm on Monday afternoon.

Image
An hour before dawn on Shibuya’s famous crossing

Graduate School Entrance Examination & The City

Tadaima modorimashita!

Saya sudah kembali dari Tokyo, kawan-kawan ヽ(´ー`)ノ

Saatnya berbagi cerita tentang ujian masuk program United Graduate School of Veterinary Sciences  (UGSVS) yang pusatnya di Kota Gifu, Prefektur Gifu, Jepang. Sebelumnya, mari gue kasih gambaran tentang program dan lokasi ujian itu sendiri. Program UGSVS adalah program gabungan dari empat universitas sekaligus yang mengampu program studi kedokteran hewan, yakni Universitas Obihiro, Iwate, Gifu, dan Tokyo University of Agriculture and Technology. Pusat administrasi dari program ini adalah Universitas Gifu, meskipun setiap mahasiswa yang belajar akan bermarkas di salah satu dari empat universitas yang dipilih. Sementara itu kota Gifu, tempat bernaungnya pusat administrasi Universitas Gifu, adalah kota berpenduduk 400.000-an jiwa dan terletak di Jepang bagian Tengah. Kota ini dikelilingi pegunungan dan dialiri beberapa sungai yang membuatnya menjadi cantik saat musim semi tiba dan sangat dingin berangin saat musim dingin.

Saya melaju dari Tokyo menuju Gifu pada Rabu, 5 Februari malam menggunakan bis malam bernama O.T.B. Liner yang parkir di lapangan parkir Kajibashi, sebelah timur stasiun Tokyo. Udara yang cukup dingin ditambah hembusan angin membuat kami para penumpang yang menunggu giliran bis kami datang dan berangkat harus sabar dan tahan berdiri di lapangan parkir sambil pasang kuping menderngarkan pengumuman jadwal berangkat. Saat itu suhu sekitar minus 1 derajat celcius dengan kecepatan angin yang cukup untuk mengelundungkan kaleng minuman kosong beberapa milimeter.

Bis malam yang membawa saya selama 16 jam

Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya tibalah waktunya saya masuk bis dan bis pun berangkat agak terlambat 5 menit dari jadwal seharusnya. Untuk ukuran bis malam antar provinsi, keterlambatan berangkat ini dianggap wajar karena perjalanan dengan bis sangat rentan terjebak macet, tumpukan salju, dan beberapa kendala lalu lintas yang lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan kereta. Saya pun mengambil posisi istirahat di dalam bus yang hangat setelah melepas winter boots dan memasang selimut (disediakan oleh pihak bus).

Lebih kurang delapan jam kemudian, bus sampai di parkir barat stasiun JR Gifu, kota Gifu. Sambil mengumpulakan nyawa saya bergegas mencari toilet untuk sekadar cuci muka, gosok gigi, dan rapi2 pakaian untuk ujian kemudian melaju ke Universitas Gifu dengan bis kota. Sebuah pemandangan yang jarang saya temukan di Tokyo adalah adanya 2-3 jembatan yang dilewati untuk sampai ke lokasi, dimana jembatan-jembatan tersebut merentangi sungai-sungai yang cukup besar.

Universitas Gifu

Sesampainya di lokasi, saya langsung mencari tempat duduk yang kebetulan ada di samping convinient store, lalu sarapan nasi kepal. Setelah kenyang dan kedinginan, saya pun bergegas mencari TKP ujian dan kembali disambut dengan jembatan yang merentangi sungai. Wow, saya pun menjuluki Gifu sebagai kota pegunungan dan sungai.

United Graduate School of Agriculture and Veterinary Sciences
Sungai yang membentang di dalam kampus

Pukul 08.00 waktu setempat, saya pun tiba di Gedung United Gradute School of Agriculture and Veterinary Sciences. Tampaknya saya adalah peserta pertama yang datang karena bahkan staff resepsionisnya pun baru datang dan langsung buru-buru absen. Karena jadwal ujian dimulai Pukul 9 pagi, saya pun diminta menunggu di dalam ruangan yang telah disediakan, yakni sebuah ruang seminar di lantai 2 yang cukup luas dan hangat.  Selama menunggu, kira-kira ada empat orang peserta lain yang datang dan menghangatkan diri di sana.

Ruang seminar yang dijadikan ruang tunggu

Tepat sepuluh menit sebelum ujian, atau Pukul 8.50, kami pun bergegas ke lantai 6 tempat ujian tertulis diadakan. Di ruangan tersebut, sudah menunggu enam peserta lainnya beserta dua orang staf pengawas ujian. Benar-benar khas Jepang yang terorganisir, kursi dan meja ujian kami sudah disusun berdasarkan nomor ujian. Hal ini tampaknya untuk memudahakan pembagian soal yang berbeda setiap orang tergantung research field-nya. Secara keseluruhan, saya mendeteksi ada empat orang asing dan sisanya orang Jepang (saya tidak tahu ada orang China atau tidak, karena penulisan namanya memakai kanji yang sama dengan Jepang, wajahnay pun mirip, hihihi).

Ujian pertama adalah bahasa Inggris yang tidak bisa dikatakan mirip TOEFL. Mungkin mirip TOEFL hanya pada bagian reading comprehension, namun lebih spesifik. Dari keseluruhan empat soal, semuanya adalah paragraf yang diambil dari jurnal dan buku kedokteran hewan dengan topik yang cukup spesifik, cardiologi, tumor/kanker, hematologi, dan anatomi. Kami harus mengisi kata-kata yang kosong pada masing-masing paragraf. Cukup menantang dan membuat saya harus membuka kembali memori masa perkuliahan S1 dan PPDH.

Ujian kedua (selang 30 menit dari akhir ujian pertama) adalah field test alias ujian mata pelajaran yang sesuai dengan research field masing-masing peserta, dalam bahasa Inggris tentunya. Saya yang mengambil bidang penelitian Veterinary Clinical Obstetry (kalau di kedokteran manusia semacam obgyn) diberikan dua lembar berisi dua pertanyaan beruntun mengenai dasar siklus estrus dan hormone-hormon reproduksi. Untuk ujian kedua ini saya cukup pede karena udah dikasih kisi-kisi (kalau ga mau dibilang bocoran soal) dari senior di Lab. Selain itu pertanyaan yang cukup mendsar serta permintaan jawaban singkat membuat saya tidak harus putar otak banyak-banyak merangkai kalimat.

Ujian ketiga (setelah istirahat makan siang) adalah ujian lisan, yakni presentasi makalah penelitian (dalam kasus saya, skripsi) dan research proposal. Waktu dibagi menjadi 10 menit presentasi dan 20 menit tanya jawab dengan professor dari 4 universitas anggota United Graduate School, termasuk professor saya sendiri. Lagi-lagi khas professor Jepang, suka dengan pertanyaan mendasar. Pertanyaan yang dilontarkan mengenai penelitian saya terdahulu tidak jauh dari metode mengapa sample-nya ini, mengapa semua dikasih treatment ini dan itu, bagaimana cara menentukan penilaian, dan sebagainya. Entah keberuntungan atau bukan, di antara 4 orang sensei, yang pede berbahasa Inggris lisan (kalau tulisan saya yakin mereka semua sangat pandai karena terbiasa menulis jurnal internasional) hanya 2 orang, termasuk professor saya tentunya. Meskipun demikian, 1 orang professor yang cukup pede berbahasa Inggris lisan itu pun lebih banyak menggunakan bahasa Jepang saat bertanya pada saya yang membuat saya harus ekstra fokus mendengarkan sambil melirik sensei saya untuk meminta bantuan diinterpretasikan (kalau tidak mau bilang diterjemahkan), hahahaha. Alhamdulillah, ujian ketiga berjalan mulus dan diakhiri dengan obrolan ringan tentang Yamagishi-sensei (salah satu professor penguji yg berbahasa Inggris) yang ternyata adalah classmates salah satu dosen saya di IPB. Obrolan yang unik untuk mengakhiri sebuah diskusi, terasa hangat.