Teraskota dan Korea

Beberapa waktu lalu, saya, adik sepupu, dan paman saya meluangkan waktu bersama untuk berbelanja di kawasan Serpong, Tangerang. Namun, berhubung sudah waktunya makan malam, kami pun mampir ke sebuah pusat perbelanjaan bernama Teraskota. Setelah berkeliling, akhirnya saya dan sepupu saya memutuskan untuk makan di sebuah restoran masakan Korea, sesuai rekomendasi paman saya. Meskipun sebenarnya paman saya sempat “mewanti-wanti”, kalau rasa masakan disini seperti masakan Jepang yang dimasak di Hoka-Hoka Bento, artinya rasa masakan sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Mungkin karena paman saya pernah bertandang Korea atau karena paman saya tahu saya penggemar “rasa otentik Asia Timur”, entahlah.

Kimchee Club, inilah nama restorannya. Mungkin berasal dari kata “Kimchi”, semacam asinan sayur khas Korea yang rasanya pedas-asam-asin. Setelah menelusuri papan menu yang membuat pusing dengan nama-nama yang asing di telinga, akhirnya saya memesan satu porsi zzanpong (entah bagaimana cara membacanya), yakni mie putih berdiameter besar (di Jepang, namanya udon) dengan lauk pauk aneka seafood dan kuah rasa laut (seperti memakai dashi pada makanan Jepang) yang pedas, panas, dan asin.

 Image

 

Sedangkan sepupu saya memesan satu porsi Ramyon soup (semacam Ramen di Jepang) dengan lauk pauk telur yang gurih. Sedangkan paman saya memesan sup (entah apa namanya) campuran daging dengan tahu, tempe dan sayur mayur yang kuahnya berasa seperti miso (di Indonesia semacam tauco). Entah karena ini pertama kalinya saya makan di restoran Korea atau memang tradisi Korea, setiap porsi makanan apapun, dilengkapi dengan semangkuk kecil kimchi dan telur dadar gulung rumput laut yang rasanya manis seperti dadar gulung Jepang, namun yang satu ini jadi gurih karena ditambah rumput laut (di Jepang disebut nori).

Image
Apapun makanannya, minumnya ya teh hijau. Saya cukup puas dengan teh hijau yang disajikan. Menurut saya agak hambar (mungkin karena ditambah es batu), namun beberapa detik setelah meminumnya, terasa seperti “habis makan daun teh”, ada rasa dan aroma teh hijau cukup kuat yang muncul.

Image
Bagaimana dengan harganya? Saya rasa sesuai dengan porsi, rasa, dan pelayanan yang diberikan. Satu porsi zzanpong yang saya pesan sekitar Rp 69.000 sudah termasuk kimchi dan sepotong dadar gulung. Harga teh hijau sekitar Rp 15.000. Untuk menu lain, seperti satu set nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur mayur dengan porsi yang lebih besar dihargai Rp 100.000-an. Menurut saya ini sudah harga standar, sama seperti restoran Jepang yang mematok kisaran harga serupa untuk porsi dan pelayanan yang sama. Sebagai informasi tambahan, suasana yang diberikan “cukup Korea” dengan sambutan dalam bahasa Korea saat masuk restoran, ditambah pelayan yang ramah. Bahkan saat kami selesai memesan, mereka mengucapkan sesuatu dalam bahasa Korea. Saya hanya tahu mereka mengucapkan terima kasih, sisanya mungkin seperti ungkapan khusus dalam melayani pelanggan.^^ Terakhir, tidak lupa sajian musik yang semuanya musik Korea, mungkin lagu-lagu yang sedang terkenal sekarang, saya juga tidak “ngeh”.

Bagi penggemar Korea ataupun “asli Indonesia” yang ingin mencicipi rasa Korea dengan sentuhan “Indonesia”, silakan mampir ke Kimchee Club.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s